RSS
coretan ini adalah hasil dari sorotan mata yang terimajinasi oleh pikiran, dan tertuang pada papan ketik yang menjadi saksi tentang kejadian itu.

Pages

terima kasih telah berkunjung ke Blog ini, semoga Coteran Beralas Papan Ketik bermanfaat. Saya tunggu kritik dan saran kalian. terima kasih. CP : facebook dan twitter

Analisis Kritik dan Esai Cerpen Air Mata Anakku Karya M. Shoim Anwar dengan Pendekatan Psikologi Sastra


Pak Huki (aku) dalam cerpen Air Mata Anakku karya M. Shoim Anwar  adalah potert buram dari petinggi-petinggi yang ada di Indonesia. Sementara Indonesia adalah negara demokrasi yang berdasarkan pada Pancasila sebagai pijakan norma-norma dalam bermasyarakat. Pak Huki terbiasa dengan cara cepat dan mudah mewujudkan keinginan yang menjadikan kehidupan Pak Huki ikut meroket. Dari situlah penderitaan awal seorang Pak Huki terjadi, hingga ia stres dan tidak dapat menerima masa pensiunnya.
            Perkerjaan yang dilakoni oleh Pak Huki berawal pencalonannya sebagai PNS hingga ambisinya menduduki jabatan wakil kepala kantor hingga menjadi kepala kantor. Seperti dalam kutipan berikut.
            Aku tak ingin tak ingin kuliah, tapi ingin bekerja dapat bayaran. Dengan bekal ijazah sekolah menengah atas itulah aku daftar tes pegawai negeri. Orang tua sudah mencari lobi agar aku dapat diterima. Beberapa hari sebelum pengumuman, ayahhku dapat telepon untuk menemui kepala kantor. Tawar-menawar pun terjadi. Dan benar, berkat negosiasi itulah aku dapat lolos dan menyisihkan sakian banyak pelamar. Aku rela uang rapelanku dipotong demi cepat turunnya SK penempatan. (Air Mata Anakku, hal. 103)

... . Dengan cara ini pula aku sudah berhasil menduduki jabatan wakil kepala di kantor. Tentu saja harus ada negosiasi dan tahu sama tahu dengan atasan terlebih dahulu. Dan ini adalah persaingan diam-diam di antara teman. (Air Mata Anakku, hal. 105)

“Dia ini pakai pagar,” kata Mbak suryo.
“Maksunya apa, Mbah?” aku minta penjelasan.
“Dia juga minta bantuan ke orang tua. Jadi tidak gampang menurunkan dia.”
“Saya mohon bantuan panjenengan, Mbah.”
(Air Mata Anakku, hal. 105)
Dalam ketiga kutipan cerpen tersebut, dapat dilihat bahwa sosok Pak Hadi  merupakan orang yang tidak sportif dalam bersaing untuk mendapatkan yang ia inginkan. Ia lebih memilih caranya sendiri untuk bersaing dengan rekan-rekannya, yakni dengan  melewati “pintu belakang”. Dalam perlakuannya tersebut merupakan bentuk dorongan dari gaya hidup sebelumnya sebagai cara untuk menggapai keinginan dengan mudah.
            Gejala-gejala kejiwaan yang terjadi dalam tokoh Pak Hadi merupakan gejala kejiwaan yang riil (nyata). Gejala-gejala tersebut juga terjadi pada masyarakat yang ingin instan dalam mendapatkan yang mereka inginkan. Dari situlah pengarang menghidupakan karakter tokoh Pak Huki yang secara sadar diciptakan oleh pengarang. 
            Dalam teori psikologi menurut Sigmund Freud, kejiwaan manusia terdiri atas tiga komponen, yakni id, ego, super-ego. Id yang terdapat dalam cerpen tersebut yakni berawal dari dorongan atau ambisi Pak Huki untuk mencalonkan diri sebagai pegawai negeri, wakil kepala kantor, higga menjadi kepala kantor. Sumber utama Id terdapan dalam pikiran Pak Huki pada masa anak-anak. Namun, dalam cerpen Air Mata Anakku kisah anak-anak Pak Huki hanya diceritakan pada masa SMAnya, sehingga interpetasi terhadap id tokoh Pak Huki ketika ujian akhir sekolah. Seperti dalam kutipan berikut.
            … , pihak sekolah yang menjadi bingung untuk mencarikan cara supaya kami dapat lulus semua. Kami memang tak pernah belajar.
“Huki, kamu kan siswa yang paling malas. Pingin lulus kan? “ kata Pak Dar, kepala sekolah kami.
“Ya, Pak,” aku mengangguk.
“Nah, perhatikan untuk semua. Ada beberapa cara untuk itu. Tapi rahasia. Jangan ketahuan orang luar. Jaga, ya?”
“Bereees,” kami serentak koor.

… , semua pengawas dan kepala sekolah sudah bekerja sama untuk mengamankan cara ini demi menjaga citra sekolah di mata masyarakat.
Dalam kutipan tersebut menunjukan bahwa ada cara yang tidak adil/ sportif dalam melaksanakan ujian sekolah. Namun, dari fenomena tersebut tokoh Huki pun memiliki mindset dan menjadi nyaman dan ketgian dengan cara yang baru ia dapatkan dari kepala sekolahnya. Hal tersebut terdapat pada kutipan sebagai berikut.
Soal ujian, yang para pembuatnya harus dikarangtina, soal disimpan di kantor polisi dan dijaga ketat, pihak sekolah ketika mengambil dan menyetor harus dikawal polisi, tidak bermakna apa-apa. Aku dapat lulus dengan mudah dengan cara-cara di atas. … (Air Mata Anakku, hal. 105)
            Dalam fenomena dan gejala yang terdapat dalam kutipan-kutipan yang terdapat dalam cerpen Air Mata Anakku karya M. Shoim Anwar, menunjukan bahwa tokoh Pak Huki menunjukkan adanya tindakan/ kebiasaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar