RSS
coretan ini adalah hasil dari sorotan mata yang terimajinasi oleh pikiran, dan tertuang pada papan ketik yang menjadi saksi tentang kejadian itu.

Pages

terima kasih telah berkunjung ke Blog ini, semoga Coteran Beralas Papan Ketik bermanfaat. Saya tunggu kritik dan saran kalian. terima kasih. CP : facebook dan twitter

Panggil aku AyAM


Panggil Aku AyAM

Tak ada pembicaraan satu katapun. Hanya langkah kaki yang menggiringi perjalanan kami. Lamunanku masih berselancar pada panggilan itu.  Hampir dekat dengan ruangan yang kami tuju, lelaki berambut putih itu pun berkata, “Kok diam? Kamu kan memang seperti itu.”, ucapnya menyadarkanku. Tak ada kalimat yang menggantung di otakku untuk memprotes semua. Gambaran wajah pasrah pun terlihat di wajahku. “Apa salahnya sih kata itu? Atau hewannya sekalipun?”, teganya.

· · ·

Udara begitu panas. Pendingin ruangan seperti tak berkompeten dengan pekerjaannya. Di ruangan ini, ku putar kursi kerja yang ku duduki menunggu bapak separu baya menyiapkan perperlengkapannya. “Tolong ambilkan tertas itu, Yam.”, ucap lelaki jangkung yang duduk di depan komputer belakangku. Dari gelagartnya terlihat jelas ada keingin tuk mencetak file-file yang menempel di bola matanya. Hembusan nafas beras keluar dari alat pernafasanku, teringat panggilannya padaku, dalam hati ingin berteriak. Kenapa aku harus dipanggil seperti itu? Kakiku melangkah ke tempat kertas yang ia tunjuk.
Masih dalam angan tentang panggilan itu. Serupakah aku dengan makhluk itu? Ataukah makhluk itu yang menyerupaiku? Batin selalu berteriak ketika mereka memanggilku seperti itu. Langkahkuku pun mendekati lelaki itu setelah kertas sudah ditangan. “Ini mas.”, ucapku sambil menaruh kertas ke dalam printer. “Eh mas, kenapa sih aku harus di panggil seperti itu?”, protesku. “Kok rasanya gimanaaa gitu.”, lanjut protesku.
Kulihat senyum lebar tergambar di wajah hitamnya. Lesung pipi sebelah kirinya terbentuk begitu saja. Alasan serupa pun terdengar lagi di telingaku, “Sudah, itu panggilan khusus dari kami”. “Panggilan itu sesuai denganmu, jadi jangan protes!”, lanjutnya. Senyum kemenangan terpancar dari wajahnya. Dan terlihat pula lelaki paru baya juga ikut merasakan kemenangan dengan penjelasan dari Mas Mamat.
Ku sandarkan badanku di  kursi kembali. Ruangngan yang hanya berisi enam meja kerja menjadi saksi lahirnya nama itu untukku. Otakku masih berfikir mencari alasan untuk protes kembali. Kulihat setiap pojok ruangang, barang kali ada kalimat yang menempel di dinding. “Sudahlah”, ujar lelaki paru baya yang duduk di keja di pojok kananku. Ujaran Pak Budi membuayarkan semuanya, “Kamu itu memang ayam, protes seperti apapun kamu tetap ayam.”. Terlihat senyum kebahagian tergambar kembali. Mas Mamat yang sedang fokus mencetak file-filenya pun tertawa dengan lepas.
Lelaki paru baya itu berusaha menenangkan ku dari senyumannya. Tapi apalah arti senyuman, karena yang ku butuhkan adalah penjelasan. Wajah kesal pun ku tampakkan. Tak dapat lagi ku bendung. Badanku sudah lagi tak bersandar. Ku tegakkan badan dalam dudukku. “Sudahlah Pak, rasanya tidak enak. Bapak dan mas Mamad memanggil saya ayam. Dan tempat  kita ada di kampus.”, jelasku. “Jika yang lain dengan pasti mengganngap saya ayam kampus.”, analisis protesku. Yang ku tangkap selalu senyum lebar dari setiap protesku. “Yasudahlah pak ayo ke kelas.”, ujarku mengalihkan pembicaran.

· · ·

Wajahku pun ku tekuk ke bawah. Sekalipun mulutku berprotes, aku pun hanya bisa memberi alasan itu-itu saja. Hatiku benar-benar pasrah menerima panggilan itu. “Kami memanggil ayam karena ada alasannya,” jelasnya. Dalam angan, apapun alasannya tetap saja itu bukan namaku. Seakan ia tau teriakan batinku, “AyAM itu kan dari nama lengkapmu. Jadi tak haru marah kan?”. Seperti dijatuhi durian runtuh, pikirnku pun langsung menganalisis nama lengkapku dengan ayam.
Protes yang sama terlempar untuk kesekian kalinya dari mulutku. Tak ada kalimat yang selesai dari protesku, namun lelaki itu langsung memotongnya. “Biarkan orang lain yang menilai, yang penting kamu tak seperti itu.”, ucapnya mengakhiri obrolan kami. Seiring dengan langkah kaki kami memasuki kelas, pikiranku langsung menemukan alasan oanggilan itu. Ku lepaskan segala makna yang menempel dari kata itu. Karena itulah namaku, AyAM (red: Ayu Amaliyah Mardhotillah).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Unknown mengatakan...

iyaaterima kasih. :)

Posting Komentar